Aku ini air. Kamu tahu air? Air akan mengikuti bentuk wadah yang menampungnya. Menampungku. Dan hidupku yang membekukanku. Kadang, aku meminta-Nya mengembalikan aku dan waktuku yang dulu. Itu berarti, aku meminta-Nya mengembalikan aku dan kebodohanku yang lucu.
Waktu habis! Otakku masih terus memikirkan hari esok. Kapan aku melanjutkan melangkah? Dunia tetap butuh bukti gelar untuk mengakui keberadaan seseorang. Hanya sebagai batu lompatan. Nanti, aku akan terbang. Bebas. Mewarnai dunia itu sendiri. Bukankah putih selalu diiringi oleh hitam? Bukankah putih menunggu pemilik cat untuk mewarnainya?
Dimana hitamku?



0 Komentar at “Ksatria Putih”
Posting Komentar