al-Hayyu wal-Qayyum

Kasih, aku ingin hidup seperti pohon jati, meranggas saat kemarau atau bersemi saat penghujan. Aku tidak ingin banyak mengeluh seperti anak-anak manusia, memakimu atas pengabulan hujan atau mengutukmu atas kemarau panjang. Bukankah air dan api hanyalah julukan untuk sang pemilik atom?
Kasih, aku bukan malaikat ahlus sobirin atau setan yang selalu ingin tahu. Aku hanyalah anak matahari yang menikahi pasir kemudian dirawat oleh al-khudi. Jangan salahkan aku atas cintaku pada purnama sebab dia adalah sang pelindung.
Kasih, aku tidak ingin menjadi al-muthaffifin atas malam dan siangmu, maka ijinkan aku menjadi cahaya yang menjadi bagian dari keduanya. Biarkan aku menikmati remah-remah waktu yang tidak akan pernah kembali, bukan mendahuluinya untuk menculik masa depan. Aku ingin bernafas bersama angin, melebur dengan hujan, atau mengagumi bau musim semi.
Kasih, aku tak pernah melihat raut yang dibingkai wajah atau mendengar suara yang dibungkam jarak. Namun aku percaya bahwa kita pernah menyatu dalam pikiran masing-masing.

0 Komentar at “al-Hayyu wal-Qayyum”

Posting Komentar